Advertisement

Wanita

Menu Atas

Brem; Jajanan Tradisional Penyambung Modernitas Yang Dibuat Atas Dasar Kesabaran

Taufikur Rahman
Sabtu, 08 November 2025 | Sabtu, November 08, 2025 WIB Last Updated 2025-11-08T03:06:34Z
              Sumber Gambar; Pialegong.id

Pernahkah kakak mencicipi brem yang meleleh perlahan di lidah? Rasa manis yang sedikit asam itu seolah membawa kita pulang ke masa lalu, ke dunia di mana makanan dibuat dengan sabar dan setiap butir beras adalah hasil kerja tangan manusia yang penuh kasih. Brem, camilan ringan yang lahir dari proses panjang fermentasi, bukan sekadar oleh-oleh khas Madiun atau Solo. 

Ia adalah kisah panjang peradaban, tentang bagaimana masyarakat Nusantara mengubah bahan sederhana menjadi simbol rasa syukur, doa, dan kebersamaan. Di balik bentuknya yang kering dan lembut, brem menyimpan filosofi tentang kesabaran, keseimbangan, dan waktu yang bekerja diam-diam.

Asal usul brem berakar pada tradisi kuno masyarakat agraris Jawa yang sangat menghargai beras. Dalam kepercayaan lama, beras dianggap sumber kehidupan, anugerah dari Dewi Sri yang melambangkan kesuburan dan keberlanjutan. 

Dari beras inilah masyarakat menemukan seni fermentasi, beras yang dimasak, didinginkan, dan diberi ragi alami hingga menghasilkan cairan manis beralkohol rendah, yang kelak dikenal sebagai tapai beras. Dari proses itulah muncul residu yang disebut ampok, bahan dasar brem. Ketika cairan tapai diuapkan dan diolah lebih lanjut, terbentuklah tekstur padat yang dikenal sebagai brem padat. Ilmu ini diwariskan turun-temurun, bukan dari buku, tapi dari tangan ibu-ibu desa yang paham rasa dan sabar menunggu waktu bekerja.

Perjalanan brem sebagai makanan khas mulai terdokumentasi di abad ke-19, pada masa kolonial Belanda. Catatan perdagangan di Jawa Timur menunjukkan bahwa brem sudah dijual di pasar-pasar tradisional sebagai camilan dan juga bahan persembahan dalam upacara adat. Di Madiun, brem menjadi simbol kota karena rasanya yang khas dan teknik fermentasinya yang sulit ditiru. Bahan baku terbaik berasal dari beras ketan putih, air jernih pegunungan, dan ragi alami yang dibuat secara tradisional. 

Setiap prosesnya tak bisa dipercepat, karena keajaiban brem justru lahir dari kesabaran. Di sinilah letak keindahan kuliner tradisional Nusantara: bukan sekadar soal rasa, tapi tentang waktu, tangan, dan keyakinan bahwa sesuatu yang baik selalu butuh proses.

Dalam masyarakat Jawa, brem juga punya makna spiritual. Fermentasi dipandang sebagai proses menyempurnakan kehidupan dari mentah menjadi matang, dari keras menjadi lembut. Tak heran brem sering hadir dalam ritual adat seperti slametan, midodareni, dan upacara panen. 

Rasa asam-manisnya mencerminkan kehidupan manusia, pahit dan bahagia berjalan berdampingan, tapi akhirnya menyatu dalam keseimbangan. Bahkan di beberapa daerah, brem dianggap membawa keberuntungan karena berasal dari bahan yang hidup. Setiap gigitan bukan hanya kenikmatan lidah, tapi juga doa agar hidup berjalan dengan harmoni.

Kini, di tengah dunia yang serba cepat dan instan, brem tetap bertahan sebagai penanda rasa masa lalu yang tak mau hilang. Dari Madiun hingga Bali, dari pasar tradisional hingga toko oleh-oleh bandara, brem terus menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Ia mungkin dibungkus plastik dan dipasarkan dengan desain baru, tapi ruhnya tetap sama hasil dari kesabaran dan cinta terhadap bahan alami. Brem mengingatkan kita bahwa tidak semua yang manis berasal dari gula, tapi dari waktu yang diberikan dengan tulus. Bahwa kelezatan sejati tak lahir dari kecepatan, tapi dari proses panjang yang diam-diam mematangkan rasa.

Mungkin disitu kekuatan sejati brem ia tidak berteriak, tapi meninggalkan kesan yang lama. Dalam setiap serpihan yang larut di lidah, ada sejarah tentang petani yang menanam ketan, perempuan yang menjaga tungku, dan budaya yang percaya pada keseimbangan alam. Brem bukan hanya makanan, ia adalah catatan rasa cara bangsa ini menulis kisahnya lewat manis yang sederhana namun dalam maknanya. Dalam dunia yang semakin terburu-buru, brem datang sebagai pengingat lembut, bahwa rasa terbaik, seperti hidup, adalah hasil dari kesabaran dan waktu.

Tapi ini bukan soal brem bondowoso, ada kah yang suka dengan jajanan satu ini???

Penulis : Hendry (Anggota Partai Buku Bondowoso)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Brem; Jajanan Tradisional Penyambung Modernitas Yang Dibuat Atas Dasar Kesabaran

Trending Now


 

Iklan

Iklan