Advertisement

Wanita

Menu Atas

Menyoal Konsep Belajar Spritual dan Kerohanian Menurut Puang Gede Suardana

Redaksi Media
Jumat, 13 Januari 2023 | Jumat, Januari 13, 2023 WIB Last Updated 2024-12-24T11:13:25Z


Portalbali.com - Maraknya masyarakat mengejar ilmu spritual atau ilmu kebathinan menjadi fenomena yang merebak bak jamur dimusim hujan. Dalam Konten Youtubenya Puang Gede Suardana mengajak masyarakat lebih teliti agar Belajar Spiritual tidak justru melahirkan depresi.


Menurut Pengusada Usada bali yang banyak penyakit non medis di RS Bali Mandar ini bahwa ada jalur dan sastra yang tidak nyambung alias disconect. Pertama tidak faham bagaimana caranya, kedua adalah Aksara dan satsra tidak tersambung


Menurut hemat Puang Suardana, bahwa di Bali sebenarnya banyak menyimpan nilai nilai lokal genius yang menyimpan kandungan pemahaman spiritual. Dimana hal ini didasarkan kepada Aksara dan Sastra.


Adapun aksara dimaksud adalah terdiktum dalam bagian sastra nusantara yang juga merupakan sumber pengetahuan sastra bali, dalam Aksara dan sastraGenre Hayuningrat Sang Hyang Ajisaka, "Ha Na Ca Ra Ka, Da ta sa wa la, Ma ga Ba ta Nga Pa Da Ja Ya Nya".




Aksara aslinya Nusantara yang lestari di Bali yang di Jawa Namanya Aksara Jawa, di Sunda Namanya Ngalagena, dan Nusantara dikenal dengan nama Aksara dan Sastra Genre Hayuningrat Sang Hyang Ajisaka


Sastra ini menjadi aksara Alfabeth, dan pengaruh lainnya dengan bahan keyakinan.


Dan hanya dibali aksara ini lestari dengan lontar, sementara didaerah lain sudah disingkirkan pasca majapahit runtuh.


"Saat pulang kembali saya banyak menemukan aksara ini," lanjutnya.


"Sayang sekali aksara bali yang diserap akhir akhir ini  jadi kurang," ujarnya.


Dikatakan juga bahwa Aksara bali tinggal 18 sehingga saat peringkasan menjadi Dasa Aksara, saat direngkes menjadi 9 bukan justru menjadi Dasa Aksara. 


Sehingga menurutnya jika Peringkesan dan penempatan sastra yang salah, dimana ini hanya 9 tidak utuh menjadi Dasa (10) Aksara, inilah biang kemudian orang belajar spritual menjadi depresi atau Pelih Agulikan mengutip lagu ari kencana. 


Namun yang lebih parah adalah orang yang melakukan atau belajar spritual tanpa sastra alias hanya mengikuti omongan orang. 


"Balajar tanpa sastra lebih parah hanya mengikuti omongan orang dia melakukan tapa brata semedhi, tanpa melakukan pemahaman yang benar dsehingga begitu terbuka didalamnya itu tanpa melakukan pembersihan diri," lanjutnya.


Sehingga, lanjutnya bahwa ketika ia terbuka di dalam kekuatan tersebut, bukan dia yang menguasai kekuatan dari luar tapi kekuatan tersebut, kekuatan yang dari luar itu yang menguasai seseorang.


Itulah yang mendasari mengapa fenomena belajar kebathinan tanpa pemahaman menyebabkan orang itu menjadi tidak terkontrol, karena ia tak mengendalikan kekuatan dari luar yang ia kendalikannya.


Untuk itu perlu ungkapnya untuk mengetahui dan memahami aksara yang benar, sesuai dengan Aksara Suci-Nya Ongkara Ngadeg, Ada Nada, Windu, Chandra, Angka Tiga, dan Dong yang memiliki makna filosofis.***


Lebih lengkapnya cek Video Youtube Puang Gede Suardana, Dibawah ini:






 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menyoal Konsep Belajar Spritual dan Kerohanian Menurut Puang Gede Suardana

Trending Now


 

Iklan

Iklan