Manggis, 26 Agustus 2025 – Guru-guru di SMA Negeri 1 Manggis menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi pembelajaran digital sekaligus meningkatnya masalah kesehatan mental siswa. Kondisi ini mendorong perlunya dukungan agar guru tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital yang inovatif serta lebih peka terhadap kebutuhan psikologis peserta didik.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melaksanakan program “Peningkatan Kapasitas Guru SMAN 1 Manggis dalam Pembelajaran Immersive Berbasis Metaverse dan Penguatan Kesehatan Mental” pada 23–26 Agustus 2025. Kegiatan dibuka oleh Kepala SMA Negeri 1 Manggis, I Nyoman Sukadana, S.Pd., M.I.Kom., yang menyatakan, “Kegiatan ini sangat diperlukan bagi guru untuk meningkatkan kapasitas pembelajaran berbasis digital. Guru harus mampu beradaptasi agar pembelajaran lebih menarik dan sesuai kebutuhan siswa masa kini.”
Tim PKM dipimpin oleh Prof. Ketut Agustini, S.Si., M.Si. dengan anggota Dr. Luh Nik Armini, S.ST., M.Keb. dan I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd., M.Pd., serta didukung DPPM Kemendikti Saintek. Prof. Agustini menegaskan, “Pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu guru-guru SMAN 1 Manggis agar lebih siap menghadapi tantangan pendidikan era digital sekaligus mendukung kesehatan mental siswa.”
Dalam sesi pelatihan, I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd., M.Pd memaparkan pemanfaatan metaverse untuk mengemas konten pembelajaran interaktif. “Metaverse bisa menjadi media baru untuk mengemas konten pembelajaran. Dengan cara ini, guru dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih immersive, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi digital,” terangnya.
Sedangkan Dr. Luh Nik Armini, S.ST., M.Keb melatih guru melakukan skrining kesehatan mental siswa. Setelah pelatihan, tim PKM melanjutkan dengan kegiatan pendampingan guna memastikan materi yang diberikan benar-benar diterapkan, sekaligus menjamin program dapat berjalan secara berkelanjutan di sekolah.
Selain itu, kampanye “Peduli Mental, Peduli Masa Depan” dan pembentukan pojok konseling turut memperkuat komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

%20(1).png)

