“Tidak ada rumah tangga yang sempurna; kitalah yang menyempurnakannya.”
— Martinus Le Uran, S.Fil
Pernikahan kerap dibayangkan sebagai puncak kebahagiaan, seolah-olah setelah janji diucapkan dan cincin melingkar, hidup akan berjalan lebih ringan. Imajinasi ini tumbuh subur dalam benak banyak orang, namun jarang diuji oleh kesadaran yang jujur. Sebab pada kenyataannya, pernikahan bukan ruang pelarian dari masalah, melainkan ruang di mana masalah justru menemukan bentuknya yang paling telanjang.
Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua tubuh, apalagi dua status sosial. Ia adalah perjumpaan dua kesadaran, dua sejarah luka, dan dua cara memaknai hidup. Di dalamnya ada cinta yang membara, tetapi juga ego yang menuntut kemenangan. Pertengkaran menjadi bahasa yang tak terelakkan, sementara iman—bagi yang beriman—menjadi satu-satunya fondasi yang menjaga ikatan itu tetap berdiri ketika nalar dan perasaan sama-sama lelah.
Di titik ini, pernikahan menuntut kedewasaan yang tidak instan. Kedewasaan untuk mengakui bahwa pasangan bukanlah makhluk ideal, melainkan manusia rapuh dengan segala keterbatasannya. Cinta dalam pernikahan bukan soal menemukan kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tetap tinggal ketika kekurangan menjadi nyata dan tak lagi bisa ditutupi oleh romantisme.
Undang-Undang Perkawinan menyebut pernikahan sebagai ikatan lahir dan batin untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Namun kebahagiaan di sini sering disalah artikan sebagai ketiadaan konflik. Padahal, justru konfliklah yang menguji apakah ikatan batin itu sungguh ada, atau hanya sebatas kontrak sosial yang rapuh oleh keadaan.
Akad nikah adalah peristiwa simbolik sekaligus eksistensial. Ia bukan sekadar ritual agama, tetapi pernyataan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan dan dirinya sendiri. Janji yang diucapkan bukan tentang hidup tanpa luka, melainkan kesanggupan untuk tidak lari ketika luka itu hadir. Dalam kesadaran religius, janji tersebut dicatat, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap komitmen memiliki konsekuensi moral.
Ironisnya, banyak orang menunda pernikahan demi menunggu kemapanan, seolah-olah harta dapat menghalau konflik. Padahal, sejarah rumah tangga justru menunjukkan bahwa kekayaan tidak kebal dari kehancuran. Uang mungkin memudahkan hidup, tetapi ia tidak pernah cukup untuk menyelesaikan perbedaan cara berpikir, luka batin, dan krisis makna yang kerap muncul dalam relasi suami istri.
Pernikahan lebih menyerupai perjalanan panjang ketimbang tujuan akhir. Ada fase berjalan sejajar, ada saat tertinggal, bahkan ada momen ingin berhenti. Dua manusia yang berbeda dipaksa belajar tentang kompromi, pengorbanan, dan keheningan—hal-hal yang jarang diajarkan dalam kisah cinta yang manis.
Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang imajinasi liar berkaitan hidup yang selalu bahagia, melainkan tentang kesetiaan untuk terus memilih pasangan yang sama, setiap hari, dalam kondisi apapun. Ia adalah latihan eksistensial: bagaimana tetap mencintai tanpa ilusi, bertahan tanpa kepastian, dan percaya bahwa makna sering kali lahir justru dari pergulatan, bukan dari kemudahan.



%20(1).png)

