Portal Bali-Bali memiliki beraneka ragam kesenian yang selalu menarik perhatian wisatawan, salah satunya yaitu Joged Bumbung. Joged Bumbung adalah tarian pergaulan yang memiliki ciri khas tersendiri yakni penari mengundang atau mengajak seseorang untuk ikut menari, yang dikenal dengan nama pengibing. Tarian ini sangat menghibur, siapapun boleh ikut menari dan tidak jarang mengundang gelak tawa karena tarian pengibing yang lucu.
Joged Bumbung sangat mengedepankan pakemnya sendiri, baik dari segi tandang, tangkis dan tangkep. Tandang yaitu gaya berjalan sesuai karakter tarinya. Tangkis yaitu cara melakukan transisi dari gerakan satu ke gerakan lain. Tangkep yaitu mimik wajah atau ekspresi penghayatan karakter tari. Namun, seiring berjalannya waktu pakem tarian ini mulai dihilangkan. “Sekarang penari baru masuk sudah memperlihatkan goyangan erotisnya. Seharusnya harus ada pembukaan pelayonan dan pelegongan untuk penutup,” kata penari Joged Bumbung asal Desa Sari Mekar, Fitri Yudiastuti.
Citra Joged Bumbung saat ini terkesan negatif karena adanya “Joged Buang” yang tariannya terlalu erotis. Sudah banyak beredar di media sosial video tari Joged Bumbung yang menampilkan gerakan tak senonoh. Hal inilah yang menambah kesan negatif Joged Bumbung. Joged Bumbung yang terkesan “Buang” ini, sudah mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak. Selain itu tarian Joged Bumbung ini sudah mengalami pergeseran karena gerakannya bercampur dengan tarian Jaipong khas Jawa. Gamelannya pun sudah mulai berbeda. Trend lagu dangdut koplo dan juga lagu pop Bali sangat digemari masyarakat, hal tersebut yang menyebabkan lagu-lagu ini dijadikan sebagai gamelan tari Joged Bumbung saat ini.
Fitri Yudiastuti mengatakan, saat ini sudah ada pembenahan yang dilakukan oleh beberapa pihak untuk melestarikan Joged Bumbung yang sesuai dengan pakemnya. “Sudah banyak pembenahan yang dilakukan, itu juga berkat pembinaan-pembinaan dari berbagai pihak terutama dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan juga Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, bagaimana mengembalikan citra Joged menjadi baik di masyarakat walaupun kenyataannya sangat sulit,” katanya.
Eksistensi Joged Bumbung dapat dipertahankan jika mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Bukan hanya penari saja tetapi masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak terkait juga harus mendukung untuk mengembalikan citra Joged Bumbung menjadi positif. Walaupun pembenahan-pembenahan yang dilakukan belum maksimal setidaknya sudah ada upaya yang dilakukan untuk menjaga eksistensi Joged Bumbung yang sesuai pakemnya.(Arista)


%20(1).png)

