Advertisement

Wanita

Menu Atas

Sudah Sembahyang, Tapi Pikiran Masih Ribut? Makna Buda Wage Merakih untuk Kesehatan Mental

Kamis, 08 Januari 2026 | Kamis, Januari 08, 2026 WIB Last Updated 2026-01-08T08:28:56Z


BERITA NUSRA- Setiap enam bulan sekali, kalender Bali kembali mempertemukan umat Hindu dengan Buda Wage Merakih—perpaduan Buda dalam Sapta Wara, Wage dalam Pancawara, dan wuku Merakih. Pada hari ini, umat Hindu memenuhi pura, mempersembahkan banten, dan tak jarang mengabadikannya di ruang digital. 


Namun muncul satu pertanyaan yang jujur dan sangat manusiawi: mengapa setelah yadnya, hati masih terasa gaduh?

Jika perasaan itu pernah muncul, sesungguhnya kita tidak sendiri. Justru di sanalah esensi Buda Wage Merakih bekerja. Hari suci ini bukan sekadar ritual, melainkan undangan untuk menata batin.


Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, menjelaskan bahwa berdasarkan Lontar Sundarigama, Buda Wage Merakih dipersembahkan kepada Bhatari Manik Galih. Energi yang dipuja pada hari ini adalah energi penyembuhan batin—menenangkan, membersihkan, dan membantu melepaskan beban mental.


Dalam Lontar Sundarigama disebutkan bahwa Buda Wage merupakan waktu utama untuk penyucian suksema, pembersihan indria, dan penurunan energi Ongkara Amerta ke dalam kesadaran. Artinya, hari ini adalah momentum terbaik untuk membersihkan mala batin—pikiran yang dipenuhi iri, amarah, kelelahan, dan kegelisahan.


Merakih bukan soal merapikan banten, tetapi merapikan isi kepala.

Secara makna, Merakih berarti merajut kembali. Bukan memulai hidup yang baru, melainkan menata ulang kehidupan yang sudah terlanjur kusut. Ketika seseorang merasa lelah tanpa tahu sebabnya, mudah tersinggung meski rajin berdoa, itu bisa menjadi tanda bahwa batin membutuhkan perawatan, bukan sekadar rutinitas ritual.


Irma menegaskan, yadnya memang bukan jaminan hidup menjadi tanpa masalah. Hindu tidak pernah menjanjikan hidup yang selalu mulus, tetapi menjanjikan hati yang kuat saat hidup tidak berjalan mulus. Inilah kejujuran ajaran dharma.


Dalam Sarasamuccaya sloka 14 disebutkan bahwa dharma yang dijaga akan melindungi manusia. Bukan untuk membuat hidup sempurna, melainkan untuk membentuk kedewasaan batin. Maka, jika setelah sembahyang seseorang masih berproses, itu bukan kegagalan—melainkan tanda kesadaran yang sedang tumbuh.


Buda Wage Merakih juga mengajarkan bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian dari menjaga kesucian hidup. Dalam konsep Wariga, Buda (Urip 7) mengajarkan pengendalian Sapta Timira, Wage (Urip 4) mengingatkan pada Catur Purusa Artha, dan Merakih (Urip 9) menegaskan nilai pelayanan dalam Nawa Wida Bhakti.


Menjadi spiritual bukan soal terlihat suci, tetapi tentang bertumbuh dalam kesadaran. Buda Wage Merakih mengajak umat untuk memuliakan kehidupan—bukan dengan pelarian dari luka, melainkan dengan keberanian duduk tenang bersama kesadaran yang jujur dan utuh.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sudah Sembahyang, Tapi Pikiran Masih Ribut? Makna Buda Wage Merakih untuk Kesehatan Mental

Trending Now


 

Iklan

Iklan